Auzi Amazia Domasti
Kompas.com
- 22/12/2017, 09:12 WIB
Ilmu pengetahuan yang diperoleh
di bangku kuliah sangat mungkin menjadi basis penciptaan teknologi yang berguna
bagi banyak orang.
Sekelompok
mahasiswa Politeknik Elektronik Negeri Surabaya
(PENS) mampu menciptakan teknologi dalam ponsel cerdas atau smartphone
yang mampu mengontrol pemanfaatan listrik rumah tangga.
Asmara
Nova Sutanto mahasiswa semester VII jurusan Multimedia Broadcasting, Agus
Prasetiyo mahasiswa semester V jurusan Informatika, Ishomudien jurusan
Informatika, dan Viqi Firdaus yang saat itu baru lulus dari jurusan Informatika
menjadi pemenang Wirausaha Muda Mandiri 2016 Kategori Digital.
Inovasi yang dihasilkan tiga
mahasiswa tersebut diberi nama IonSmart. Mereka memberdayakan smartphone
menjadi remote control dengan memanfaatkan teknologi internet
of things (IOT) di dalamnya.
Bentuk aplikasi IonSmart dalam smartphone.(Auzi Amazia Domasti)
Fungsi remote
control diaplikasikan untuk mendigitalisasi sakelar-sakelar manual ke
dalam smartphone. Dengan demikian, smartphone bisa
menjadi semacam alat pengendali jarak jauh untuk mengoperasikan pemakaian listrik
di rumah tangga.
Ketiga
mahasiswa itu berprinsip, teknologi harus mempermudah kehidupan manusia, tetapi
sekaligus tetap ramah terhadap lingkungan.
“Kami
optimistis, temuan ini akan bermanfaat bagi penghematan listrik rumah tangga
dan memberi rasa nyaman bagi pemilik rumah karena dapat melihat status
listriknya meski berada jauh dari rumah. Data-data tersebut bahkan dapat di-share,”
ujar Agus Prasetiyo yang berperan sebagai Chief Technology.
Tantangan
dan solusi
Dukungan
yang tepat di dunia kampus akan menciptakan mahasiswa yang inovatif dan
kompetitif, yang mampu melahirkan inovasi tepat guna, bernilai
ekonomis dan sosial.
Proses produksi IonSmart.(Auzi Amazia Domasti)
Ini
terutama karena 113 juta pekerja terampil dibutuhkan pada 2030
mendatang. Tak pelak, persaingan ketenagakerjaan bakal semakin ketat di
Indonesa.
Terkait
kebutuhan tersebut, pendidikan politeknik di Indonesia perlu
menjawab sejumlah tantangan untuk memenuhi kebutuhan industri. Misalnya,
meningkatkan pengawasan terhadap proses pelatihan swasta dan sistem magang atau
kerja praktik, serta menyempurnakan data tentang kebutuhan pasar tenaga kerja.
Saat
ini, politeknik juga dituntut untuk secara dinamis menjaga relevansi
program-program pendidikan dan pelatihannya, termasuk memastikan kemajuan
perangkat belajar dan alat-alat praktik, serta proses belajar-mengajar yang
kondusif.
Mahasiswa terampil juga membutuhkan
tenaga pengajar yang memiliki pengalaman di dunia kerja nyata. Selain itu,
keterlibatan dunia industri untuk membantu meningkatkan kualitas pembelajaran
dan literasi akan teknologi terkini sangat dibutuhkan.
Oleh
karenanya, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi
(Kemenristekdikti) menggagas Program Pengembangan Pendidikan Politeknik atau
Polytechnic Education Development Project (PEDP) yang didukung oleh Asian
Development Bank dan Pemerintah Kanada.
Direktur
Pembelajaran Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Mahasiswa Kemenristekdikti Dr
Paristyanti Nurwardani mengatakan, pemerintah telah mereformasi sistem
pendidikan di politeknik.
Langkah
yang dilakukan antara lain memfasilitasi hubungan kerja sama antara institusi
politeknik dan dunia industri di pusat-pusat ekonomi.
Di
sisi pendanaan, pemerintah membentuk Dana Keterampilan Nasional yang bersifat
fleksibel dan berorientasi pada permintaan pasar. Dengan demikian, sektor
publik dan swasta sama-sama dapat membiayai kegiatan politeknik di enam koridor
ekonomi.
Bahkan,
pemerintah telah menyiapkan Tempat Uji Kompetensi (TUK) dan Lembaga Sertifikasi
Profesi (LSP) serta mengimplementasikan sistem transfer kredit belajar dan Rekognisi
akan Pembelajaran Lampau (RPL) sesuai Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia
(KKNI), yang terintegrasi dengan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
“Selain
itu, kami memperkenalkan mekanisme kompetitif yang mendorong berkembangnya
budaya kewirausahaan,” ujar Paristyanti.
Dengan
demikian, Indonesia diharapkan akan memiliki tenaga profesional yang terampil
dan berkualitas menjelang era bonus demografi mendatang.
Sumber : http://edukasi.kompas.com
diedit kembali oleh : Ghufran Fatur Rahman



Komentar
Posting Komentar